This post is dedicated to Fransisca Maureen (1980-2024) may you rest in piece. I love you and I miss you everyday.
Pada tanggal 28 Desember 2024, gue bersama kedua sepupu gue berencana untuk pergi ke Bandung selama tiga hari dua malam. Kami sudah memesan sebuah vila di Lembang pada tanggal 28, 29, dan 30 Desember 2024. Seperti acara jalan-jalan yang sudah kami jalani sejak 2022, biasanya masing-masing dari kami akan membawa keluarga inti. Gue bersama istri dan kedua anak gue; sepupu gue yang tinggal di Purwakarta membawa istri dan anaknya yang masih bayi merah; tak ketinggalan sepupu gue yang tinggal di Surabaya bersama suami dan keponakan kesayangannya.
Gue memiliki dua sepupu yang bisa dikatakan sebagai hal terbaik yang pernah dunia berikan untuk gue. Kami dekat satu sama lain karena memiliki humor random dan absurd yang setipe. Vero Saragih tinggal di Purwakarta; mamaknya adalah kakak perempuan (namboru dalam istilah Batak) dari bokap. Sementara itu, Fransisca Maureen adalah sepupu gue yang lain dan tinggal di Surabaya. Mamaknya juga merupakan adik perempuan dari bokap.
Gue, Vero, dan Morin memiliki grup WA yang kami namakan “Komor to the Beat”, yang mengacu kepada frasa komorbit, artinya segala jenis penyakit bawaan seperti jantung, hipertensi, dan diabetes. Kebetulan, semua jenis penyakit itu kami warisi bertiga akibat obesitas yang kami derita selama puluhan tahun.
Gue pengidap Diabetes Melitus tipe dua. Belum suntik insulin, namun sudah harus meminum obat penurun gula darah setiap hari. Vero menderita penyakit jantung koroner, sementara Morin memiliki penyakit paket super lengkap: jantung koroner, hipertensi, dan Diabetes Melitus tipe satu. Seumpama rumah sakit adalah time zone, maka kartu BPJS Morin bisa dikatakan statusnya sudah Gold Card alias premium, sementara kartu BPJS Vero sudah Blue Card, berada di kisaran level menengah. Gue masih Red Card, alias pendatang baru atau newbie.
Grup WA tersebut berawal dari video call iseng Morin ke gue sepulang dari kantor di pertengahan tahun 2021. Setelah tersambung, ia hanya bertanya seperti ini,
“Oi, belum mati lu?”
lalu tertawa cekikikan sendiri.
Bangsat juga satu orang ini, pikir gue saat itu. Lalu gue menjawab,
“Gue masih hidup nih. Coba kita telepon si Vero, jangan-jangan dia udah dikubur mayatnya secara random oleh pihak rumah sakit.”
Kami berdua pun tertawa puas, terkekeh-kekeh.
Kami cukup sering melakukan group video call via WA dan mengobrol bertiga saat pandemi melanda di tahun 2021. Di tengah-tengah obrolan, kami bersepakat untuk membentuk grup jalan-jalan setiap tahun yang jatuh pada bulan Desember. Kami juga bersepakat untuk menabung setiap bulan masing-masing Rp350.000 dari Januari 2022 hingga Desember 2022. Tempat yang kami sepakati untuk dikunjungi pada edisi perdana adalah Bandung. Secara resmi, kami menjadikan Bandung sebagai perjalanan pertama bagi grup Komorbit pada Desember 2022.
Ada kenangan yang tidak terlupakan selama kami menginap tiga hari di Bandung pada tahun 2022. Suatu malam, sehabis makan malam dan sedang dalam perjalanan menuju hotel di daerah Setiabudi, tiba-tiba dada Vero terasa sesak. Rupanya sepupu gue itu terkena serangan jantung ringan. Apesnya, obat tidak dibawa dan belum dibeli.
Saat itu kami berada dekat Paris Van Java. Kondisi jalan Bandung ramai padat karena malam Minggu. Vero terpaksa membanting setir ke kanan dan masuk ke sebuah hotel yang tidak jauh dari PVJ. Mobil diberhentikan tepat di area drop-off. Dengan sangat sopan, petugas keamanan hotel menyambut kami sambil menanyakan,
“Bapak sudah melakukan pemesanan kamar, Pak?”
Gue yang panik hanya bisa keluar dari pintu mobil sebelah kiri sambil berteriak,
“TOLONGGG!! BAPAK SAYA KENA SERANGAN JANTUNG!!”
Morin yang berada di bagian tengah mobil ikut keluar sambil menyuruh petugas keamanan dengan nada keras, bak pemimpin ormas pemuda pengangguran. Pemandangan ini mungkin akan membuat orang berpikir bahwa petugas keamanan tersebut adalah ajudan pribadi Morin.
“HEYY KAMU! YA! TOLONG KAMU! AMBILKAN AIR PANAS, CEPAT!!”
Petugas keamanan segera berlari masuk ke hotel untuk mengambil air panas di pantry. Gue hanya bisa berpikir, sungguh naas sekali nasib petugas keamanan ini. Sudah bukan melayani tamu yang menginap, malah kedapatan tamu random yang gendut, kena serangan jantung, merepotkan pula, dan tidak memesan kamar.
Vero kemudian dibawa ke pos keamanan yang tidak jauh dari area drop-off. Ia meminum air hangat yang dibawakan oleh petugas keamanan yang baru saja dibentak-bentak oleh Morin. Singkat cerita, keadaan Vero membaik. Kami yang tadinya ingin segera pulang ke hotel dan tidur akhirnya mencari apotek pinggir jalan untuk membeli obat jantung bagi Vero.
Sesampainya di hotel, gue dan Morin justru menertawakan kejadian ini. Kami mengobrol hingga pukul dua pagi—sesuatu yang sangat gue nikmati bersama kedua sepupu gue itu.
Pada Desember 2023, kami memutuskan untuk pergi ke Jogja. Perjalanan ini juga tidak kalah menyenangkan. Gue bersama Vero naik mobil dan menempuh perjalanan selama sepuluh hingga dua belas jam. Sementara itu, Morin, suami, dan sepupunya memutuskan untuk menggunakan kereta dari Surabaya. Kami menghabiskan banyak waktu di Gunung Merapi dan Candi Borobudur. Kami juga melakukan wisata kuliner di Raminten dan sepanjang Malioboro.
Gue sangat menikmati perjalanan kami, baik di Bandung pada Desember 2022 maupun di Jogjakarta pada 2023.
Pada Desember 2023, saat kami berpelesiran di Jogja, kami sudah merencanakan untuk pergi ke Bandung untuk kedua kalinya setelah perjalanan kami di tahun 2022 silam. Kami memilih Bandung karena Vero baru memiliki anak, sehingga rasanya akan menjadi tidak aman bila kami merencanakan perjalanan dengan jarak yang jauh.
Pada tanggal 27 Desember 2024, sehari sebelum keberangkatan ke Bandung, Morin—sepupu gue yang tinggal di Surabaya—mengirim pesan WA di grup kami bertiga. Ia membuka topik mengenai rencana perjalanan ke Bali pada Desember 2025. Dalam pesan tersebut, Morin banyak memberikan ide tentang tempat-tempat yang akan kami kunjungi di sekitar Ubud, Legian, serta kafe-kafe yang pernah ia datangi sebelumnya.
Kami menyelesaikan diskusi pada pukul 11.10 pagi, tanpa mengetahui bahwa tiga puluh menit kemudian ia terserang stroke. Suaminya menemukan Morin dalam keadaan tidak sadarkan diri di dalam kamar. Singkat cerita, Morin langsung dilarikan ke rumah sakit. Sementara itu, gue dan Vero belum mengetahui apa pun tentang kejadian ini.
Kami menganggap semuanya masih berjalan baik-baik saja hingga adik perempuan Morin mengirim pesan WA kepada gue pada pukul 15.00 sore. Ia memberitahukan bahwa Morin tidak sadarkan diri di rumah sakit akibat serangan stroke dan kemungkinan besar tidak dapat mengikuti perjalanan ke Bandung keesokan harinya, tanggal 28 Desember 2024.
Saat itu, gue hanya bisa tercenung. Otak gue masih mencoba mencerna apa yang menimpa Morin. Bagaimana mungkin tadi pukul 11.10 pagi kami masih saling bertukar pesan di grup WA, kini pukul 15.00 sore dirinya sudah terbaring koma di rumah sakit? Gue berharap semuanya akan baik-baik saja.
Namun semesta berkata lain. Dan tentu saja, semesta tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan, harapkan, dan impikan. Dari hati yang patah, kita belajar bahwa semesta kerap mengecewakan kita.
Tanggal 31 Desember 2024, gue kembali belajar tentang patah hati—tentang harapan yang pupus, tentang kesedihan, dan tentang kehilangan orang yang gue sayangi. Pada tanggal tersebut, gue menerima kabar bahwa Morin telah pergi meninggalkan kami semua. Kabar itu gue terima dari grup WA keluarga besar.
Gue masih ingat apa yang gue lakukan setelah mendengar kabar duka itu. Gue hanya duduk di teras depan rumah sambil melihat galeri foto-foto gue bersama Morin dan Vero sejak perjalanan Bandung 2022 dan Jogjakarta 2023. Gue menangis dalam diam, sambil bertanya-tanya kepada langit sore.
Ah, sialan, kenapa dirimu cepat sekali meninggalkan kami, sih, Kak?
Terus, kepada siapa gue akan bercanda sampai tengah malam nanti?
Tenang dirimu di sana, ya, Kak.
Gue akan dan selalu merindukan dirimu.
Something that you need to know about this blog:
- I write this blog based on my true experiences
- The name of the characters on this blog is not real anymore (Except my own character), I change it due to avoid some feuds, lawsuits, or even dead threats to me, my cats, and my dogs.
- I dramatize and exaggerate some parts in order to make a good story with a good punchline so that you can laugh your ass off and say “Hey this blog is funny! I love it!”
- I write this blog mostly on Friday night and Saturday night. Why? because that’s what forever alone dude do.
Posted on January 11, 2025
0